Beranda > Nyeleneh > Jangan Panggil Aku Tuan!

Jangan Panggil Aku Tuan!

Butterfly

Keanehan muncul ketika Putih kesepian. Putih hanya sendiri di rumah. Keadaan seperti inilah yang tidak disukainya. Putih sendirian mencoba menahan kekuatan aneh yang memasuki sekujur tubuhnya. Tubuhnya gemetar bergerak tak karuan. Pakaiannya basah penuh peluh. Tangannya mulai mengepal. Wajahnya hilang seketika hingga semua tubuhnya berwana putih bertotol hitam. Dia merasa melayang tanpa kaki. Tangannya hilang, tergantikan sayap. Sekarang dia tahu, dia telah menjadi kupu-kupu lagi. Kupu-kupu yang kesepian.
Keanehan ini berlangsung sejak dia berumur 13 tahun. Tak ada yang tahu. Itulah sebabnya dia selalu menghindari sepi. Dia tak tahu apa sebabnya selalu menjelma menjadi kupu-kupu bila dia kesepian. Itulah sebabnya dia takut sendiri di rumah apalagi di dalam kamar.
Jika dia menjelma menjadi kupu-kupu, kadang dia terbang di atas bunga-bunga yang harum. Pernah juga hinggap di pohon-pohon yang menjulang tinggi dan hijau. Dikala hujan kanopi pohon bagaikan atap sering dia berteduh dibawahnya. Sepi sejuk hening diantara banyak tumbuhan.
Semak-semak yang tak beraturan seolah terlihat anggun. Dia melihat seorang pemuda yang sedang menebang kayu di dekat rumah kecil. Tubuhnya kekar, tinggi dan terlihat tampan. Dia menghampirinya.
Ia terbang memutar di dekat sekeliling kayu yang sudah ditebangnya. Dia begitu terpesona dengan wajah berkilau bagai berlian. Apalagi matahari yang begitu hangat menyinari tubuh kekarnya menjadikan terlihat tambah berkilau.
Sekilas Putih perhatikan lingkungan di sekitar sini sangat memprihatinkan. Tanah mulai botak dan pantai di dekatnya abrasi tak terawat. Kombinasi suara deburan ombak dan mesin penebang kayu menbuatnya merasa agak mual. Putih mulai terhuyung-huyung kemudian jatuh di tanah.
“Di mana aku?”
Terlihat sosok pemuda yang tadi dilihat Putih. Diberikannya Putih segelas air. Dengan pelan Putih meneguknya.
“Tenang! Gadis…, aku tidak akan menyakitimu. Kenalkan namaku Hijau. Kamu berasal dari mana dan gerangan apa kamu kemari?”
“Perkenalkan juga namaku Putih. Aku tersesat disini dan aku tak tahu jalan pulang. Aku berasal dari Kota Kayu Veda”.
“Apakah keadaanmu sudah baikan. Apakah kau mau kuantar pulang sekarang?”
“Maaf, kepalaku masih pusing serta mataku agak kabur. Antar saja besok aku pulang. Sekarang sudah mulai larut”.
“Baiklah, sebaiknya engkau istirahat agar besok bisa sehat kembali”.
“Terima kasih Tuan Hijau”, kata Putih pelan.
“Sudah, jangan terlalu banyak omong. Lekas istirahat Putih! Dan satu lagi, jangan panggil aku Tuan. Cukup panggil aku Hijau saja. Selamat malam Putih”.
Sendiri lagi Putih dalam kegelapan malam. Hanya cahaya lilin yang menemani tidurnya. Sepi sepi yang dirasa. Tubuh dan tangannya gemetar. Putih terbang dan pergi melalui celah tembok yang berlubang.
Keesokan harinya Hijau panik karena Putih hilang. Merasa bersalah, Hijau mencari-cari putih hingga malam hari.
“Putih…!!!!Putih…”, teriaknya lantang.
Sudah seharian dia mencari Putih tetapi tidak ada hasilnya. Hijau sudah lelah. Ia hempaskan tubuhnya di atas tikar.
“Auw…, apa ini tajam mengenai punggungku?”
Terlihat sebuah benda berkilau.
“Ini cincin”.
“Sepertinya cincin ini tak asing lagi. Emh…, ini…, ini… cincin yang sama seperti yang aku miliki. Mungkinkah dia adalah anakku yang menghilang sepuluh tahun yang lalu? Anakku dan Biru wangi. Tapi dimana anakku sekarang?Biru wangi itulah namamu yang sebenarnya nak, sama seperti nama ibumu”.
Pemuda itu terisak menangis. Tetesan air matanya menetes di atas daun talas yang mengalir lembut. Hijau teringat akan istrinya. Sudah lama ia merasa kesepian.
“Istriku, apakah kau mendengarkanku di alam sana? Aku baru saja bertemu anak kita yang hilang sepuluh tahun yang lalu tetapi sekarang dia telah menghilang lagi. Maafkan aku. Aku berjanji akan mencarinya”.
Hari sudah mulai larut tetapi Hijau tetap nekat menembus kegelapan malam. Pagi-pagi sekali ia sudah sampai di kota Kayu Veda. Hijau beristirahat di bawah pohon maja. Sambil mengusap usap tubuhnya yang berkeringat. Tanpa sengaja ia melihat gadis yang begitu cantik.
“Biru Wangi, apakah itu Biru Wangi? Tetapi tak mungkin, dia sudah meninggal”.
Gadis itu menoleh ke arahnya.
“Hijau, Hijau itukah kau?” teriak gadis itu semangat.
“Siapa kau?” Sambil mengusap-usap matanya dan Hijau baru tersadar bahwa itu Putih. Putih terlihat begitu berbeda mengenakan gaun. Mirip biru wangi.
“Aku putih. Sebenarnya sejak pertama kali aku melihatmu, aku jatuh cinta padamu”.
“Apa? Tetapi…. Ini cin…”.
Belum selesai Hijau berbicara, omongannya dipotong begitu saja oleh Putih. Di lain sisi Hijau yang sekian lama merasa kesepian, itu semua telah terobati. Diam-diam Hijau juga mencintai Putih.
“Hijau, apakah kau mau menikah denganku?”
“Apakah aku tak terlalu tua untukmu?”
“Tidak, berapapun usiamu. Aku akan selalu tetap mencintaimu”.
Lama Hijau terdiam. Pikirannya sedang memilih antara cinta, kesepian, Biru Wangi dan anak kandung.
Dalam hati ia berkata,”Salahkah aku mencintai anak kandungku sendiri tapi apakah ini yang dinamakan cinta terlarang?” Cinta telah mengalahkan semua pertimbangan Hijau hingga satu kata terlontar dari mulutnya.
“Ya, aku bersedia menikah denganmu karena aku juga sangat mencintaimu”.
Tiba-tiba langit berubah menjadi muram. Matahari tertutup mendung. Petir, halilintar menyambar pohon-pohon hingga tumbang. Hijau berlari sambil menarik tangan Putih. Sekejap Putih menghilang dan menjadi kupu-kupu putih untuk selamanya. Hijau tak pernah tahu bahwa Putih bisa menjelma menjadi kupu-kupu. Penjelmaan kupu-kupu yang sebenarnya ditakdirkan kepada Putih untuk mencari ayahnya telah didustai dengan cinta terlarang Putih. Putih tak tahu bahwa cinta pertamanya adalah ayah kandungnya sendiri.
Sejak bencana tersebut terjadi, Hijau merasa sangat sedih dan menyesal. Dia merasa bersalah. Telah mendustai janji kepada istrinya. Tiba-tiba cintanya lenyap seketika. Kini Hijau kesepian.
Hampir setiap pagi Putih datang ke rumah Hijau. Putih selalu hinggap di atas daun talas. Air mata putih mengambang di atas daun. Putih tidak pernah tahu bahwa Hijau adalah ayah kandung sekaligus cinta pertama Putih.
Suatu hari Hijau berdoa memohon kepada Tuhan.“Tuhan, mengapa Engkau membuatku menderita? Kenapa Putih yang harus Kau kutuk? Aku tak sanggup seperti ini sepanjang aku hidup. Semua telah meninggalkan aku. Saat aku merasa kesepian, tak ada yang menemaniku. Lebih baik kutuklah aku saja yang penting aku bahagia”.
Tiba-tiba tubuh Hijau gemetar tak karuan. Tangannya yang kekar seketika lenyap berubah menjadi sayap. Otomatis mata Hijau terpejam dan yang Ia rasakan adalah melayang tanpa kaki. Dibuka matanya pelan-pelan. Dilihat sekujur tubuhnya yang berubah menjadi kupu-kupu kuning. Dia melihat Biru wangi yang sedang hinggap di daun talas. Segera ia menghampiri Biru wangi.
“Biru wangi?”
“Hijau?”
“Aku mencintaimu Biru wangi”.
”Aku juga mencintaimu Hijau, tapi aku bukan Biru wangi. Aku Putih”.
“Ya, siapapun kau. Putih penjelmaan kupu-kupu ataukah Biru wangi aku tetap mencintaimu. Biru wangi, itu nama barumu sekarang”.
Cinta terlarang yang dipersatukan menjadi satu kutukan bersama adalah sesuatu yang indah. Mereka terbang berdua selamanya. Bercumbu mesra di antara bunga-bunga.
“Indah, indah sekali sepasang kupu-kupu itu”, kata seorang anak kecil sambil jingkrak-jingkrak hendak menangkap sepasang kupu-kupu itu. Sepasang kupu-kupu putih dan kuning itu menghiasai taman kota Kayu Veda.
Sayup-sayup terdengar dendang kupu-kupu kuning yang dibawa desir angin pagi. Konon setiap pagi dendang kupu-kupu kuning selalu mengambang di udara. Hanya anak kecil yang dapat mendengarnya.
Anak kecil itu ikut berlari sambil berdendang dengan sepasang kupu-kupu itu. ”La…la…lalala…”.
Tentang kita dan gelap gulita
Ketika terbangun, menjebak cepat hati ini
Pulang bersama telapak kaki dingin dan tanpa alas
Hatiku juga terasa kaku
Beranjak dari lantai keramik yang penuh duri
Jubah waktu gelap gulita tertutup tanpa udara
Aku ingin rumput menungguku untuk tumbuh
Tanpamu tanpa masa lalumu…
Tanpamu tanpa masa lalu…
Bercak noda di dinding kamarku
Untukmu, untukku
Selamanya…

Tangan anak kecil itu mendekap kupu-kupu putih, dimasukkannya ke dalam botol kecil. Mata bening anak kecil itu menatap gemas. Girang anak kecil itu melangkah lebar sambil memainkan botol kecil yang dibawanya.
Kupu-kupu kuning hendak mengejarnya. Tak ada lagi kupu-kupu putih yang menemaninya terbang. Sayapnya tak berhenti berayun-ayun entah terbang kemana.
Kupu-kupu kuning itu selalu berdendang mengundang kupu-kupu lain untuk ikut membantu menemukan kupu-kupu kuning. ”La…la..lalala…. kupu-kupu kuning dimanakah engkau sekarang? Disini aku mencari botol kecil anak itu”.
Terlihat kota Kayu Veda selalu ramai dihiasi kupu-kupu. Tak ada satu orang pun yang tahu dendang si kupu-kupu kuning kecuali anak berbotol kecil.
Rumput-rumput kecil di taman kota Kayu veda selalu hijau menunggu. Menunggu anak kecil berbotol kecil hingga tumbuh dewasa. ”Jangan panggil aku tuan!”, kata anak kecil berbotol kecil.

Kategori:Nyeleneh Tag:,
  1. leegundi
    27 Juni 2010 pukul 3:09 pm

    wih bagus sekali ceritanya
    yang nulis ceritanya pasti cantik n manis orangnya..hehehe

    • 28 Juni 2010 pukul 9:27 pm

      beh.. ni kan cerpen nya diah🙂

  2. leegundi
    29 Juni 2010 pukul 3:12 pm

    heheheeh iyah…..🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: